Analisis status hara lahan ini mengelompokkan parameter penting — pH (H₂O/KCl), DHL, C-organik, N total, P₂O₅, K (dan kejenuhan basa) — untuk menilai keragaman kondisi tanah antar lokasi dan mendukung penerapan teknologi presisi. Perbandingan unsur hara antar lokasi sampling (Brebes, Cipaku–Bogor, Pangandaran, Cianjur, dan Gambung–Bandung) digunakan untuk menyusun rekomendasi dosis pupuk dan amelioran berbasis kebutuhan komoditas setempat (mis. bawang merah, cabai, durian, teh), sehingga aplikasi variabel (variable-rate application) dan intervensi amelioran dapat ditargetkan pada areal yang benar-benar defisit atau berlebih.
Ringkasan interpretasi per lokasi:
-
Brebes (Jawa Tengah) — bawang merah & cabai: komoditas umumnya membutuhkan P dan K cukup tinggi dan pH mendekati netral; jika tabel menunjukkan P atau K rendah dan/atau C-organik rendah → prioritaskan pupuk P starter + K dan peningkatan bahan organik untuk mendukung pembentukan umbi dan pembentukan buah.
-
Cipaku, Bogor (Jawa Barat) — bawang merah: kebutuhan serupa Brebes; perhatikan drainase dan salinitas (DHL) untuk bawang yang sensitif terhadap kelebihan garam.
-
Pangandaran (Jawa Barat) — pohon durian: durian lebih diuntungkan oleh C-organik tinggi, ketersediaan Ca/Mg yang memadai, dan pasokan K untuk kualitas buah; jika tabel menunjukkan N berlebih atau P rendah, sesuaikan pemupukan dengan fokus pada peningkatan organik dan K.
-
Cianjur (Jawa Barat) — cabai: cabai memerlukan K dan P yang memadai ditambah keseimbangan pH; kekurangan K pada tabel → dapat menurunkan hasil/ukuran buah, sehingga variable-rate K dianjurkan.
-
Gambung, Bandung (Jawa Barat) — teh: teh optimal pada pH asam (sekitar 4.5–5.5) dan C-organik tinggi; jika tabel menunjukkan pH terlalu netral atau kejenuhan basa tinggi → pertimbangkan praktik untuk mempertahankan keasaman yang sesuai dan meningkatkan C-organik (mulsa/kompos) daripada liming.
Berikut link daftar table hasil analisis sampel tanah per lolasi (BRIN): Sertifikat hasil analisa tanah BRIN – Google Sheets
Kesimpulan (implikasi teknologi presisi):
Data tabel menegaskan adanya variasi spasial unsur hara antar lokasi dan komoditas; oleh karena itu rekomendasi terbaik adalah menerapkan pendekatan teknologi presisi: buat peta variabilitas (grid/zone), gunakan aplikasi dosis variabel untuk pupuk dan amelioran berdasarkan uji tanah per zona, prioritaskan peningkatan C-organik di lahan dengan organik rendah, dan monitoring berkala untuk mengevaluasi respons tanaman. Dengan demikian, pemupukan menjadi lebih efisien, biaya input termanajemen, dan hasil/harga mutu komoditas hortikultura dapat dioptimalkan sesuai karakteristik tiap lokasi.
